Materi Khutbah
Jumat Terbaru 3 Perumpamaan Sifat Manusia dalam Al-Qur’an
السلام عليكم
ورحمة الله وبركاته
الحمد لله الذى
أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون أشهد أن
لا إله غلا الله الواحد الصمد إياه نعبد وإياه نستعين ,اشهد أن محمدا عبده ورسوله
بشيرا ونذيرا وداعيا إلى الله بإذنه وسراجا منيراز أما بعد: فيا أيها المسلمون
رحمكم الله أصيكم بنفسى بتقوى الله فقد فاز فوزا عظيما.
فقد قال الله سبحانه وتعالى فى كتابه العزيز : وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى
النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا
يَعْرِشُونَ
Hadirin Jama’ah
Jum’at di mulikan oleh Allah
Di dalam
al-Qur’an ada tiga binatang kecil diabadikan ileh Allah menjadi nama surah,
yaitu al-Naml ( semut), al-‘Ankabut (laba-laba),
dan al-Nahl (lebah). Ketiga binatang ini masing-masing
memiliki karakter dan sifat, sebagimana digambarkan oleh al-Qur’an. Dan hal itu
patut dijadikan pelajaran oleh manusia
Semut memiliki
sifat suka menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa henti-hentinya. Konon,
binatang ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun sedangkan usianya
tidak lebih dari satu tahun. Kelobaanya sedemikian besar sehingga ia berusaha
memikul sesuatu yang lebih besar dari badannya, meskipun sesuatu tidak itu
tidak berguna baginya.
Hadirin Sidang
Jum’at yang dimuliakan oleh Allah!
Lain halnya
dengan laba-laba, sebagaimana digambarkan dalam al-Qur’an bahwa sarang
laba-laba adalah tempat yang paling rapuh,
مَثَلُ
الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ
اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ
كَانُوا يَعْلَمُونَ
ia bukan tempat
yang aman, apa pun yang berlindung di sana atau disergapnya akan binasa.
Jangankan serangga yang tidak sejenis, jantannya pun setelah selesai
berhubungan disergapnya untuk dimusnahkan oleh betinanya. Telur-telurnya yang
menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan.
Ayat di atas
memberikan gambaran bahwa di dalam masyarakat atau rumah tangga yang keadaannya
seperti laba-laba; rapuh, anggotanya saling tindih-menindih, sikut menyikut
seperti anak laba-laba yang baru lahir. Kehidupan ayah dan ibu serta anak-anak
tidak harmonis, antara pimpinan dan bawahan saling curiga.
Sidang Jum’at
Yang Dimuliakan oleh Allah
Akan halnya
dengan lebah, memiliki insting yang sangat tinggi, oleh al-Qur’an digambarkan
sebagimana dalam Firmannya :
وَأَوْحَى
رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ
الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ(68)ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ
فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ
أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ
يَتَفَكَّرُونَ
Dan Tuhanmu
mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon
kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”. kemudian makanlah dari
tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan
(bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam
warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran
Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.
Sarangnya
dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar tidak terjadi
pemborosan dalam lokasi. Yang dimakannya adalah kembang-kembang dan tidak
seperti semut yang menumpuk-numpuk makanannya, lebah mengolah makanannya dan
hasil olahannya itulah menjadi lilin dan madu yang sangat bermanfaat bagi
manusia untuk dijadikan sebagai penerang dan obat. Lebah sangat disiplin,
mengenal pembagian kerja dan segala yang tidak berguna disingkirkan dari
sarangnya. Ia tidak mengganggu yang lainnya kecuali yang mengganggunya,
bahkan kalaupun menyakiti (menyengat) sengatannya dapat menjadi obat.
Oleh karenanya,
wajarlah kalau Nabi mengibaratkan orang mukmin yang baik seperti lebah,
sebagaimana dalam sabdanya:
قال رسول الله
صم : مثل المؤمن مثل النحلة لا تأكل إلا طيبا ولا تضع إلا طيبا وإن وقعت فى شئ لا
تكسر.
Rasulullah
bersabda: Perumpaan seorang mukmin adalah seperti lebah. Ia tidak makan kecuali
yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang baik, dan bila berada pada suatu
tempat tidak merusak”
Hadirin Jama’ah
Jumat Yang Dimuliakan Oleh Allah
Dalam kehidupan
kita di dunia ini contoh-contoh di atas seringkali diibaratkan dengan
berbagai jenis binatang. Bahkan kalau manusia tidak mengetahui posisinya
sebagai makhluk yang memiliki aturan dalam hal ini petunjuk-petunjuk agama bisa
saja menempati posisi lebih rendah dari binatang bahkan lebih sesat dari
binatang.
Jelas ada
manusia yang berbudaya semut, yaitu suka menghimpun dan menumpuk materi atau
harta (tanpa disesuaikan dengan kebutuhan. Menumpuk-numpuk harta tanpa ada
pemanfaatan dalam agama (dalam bentuk zakat dan sadaqah) tidak sedikit problem
masyarakat bersumber dari budaya tersebut. Pemborosan adalah termasuk budaya
tersebut di atas yaitu hadirnya berbagi benda baru yang tidak dibutuhkan dan
tersingkirnya benda-benda lama yang masih cukup bagus untuk dipandang dan
bermanfaat untuk digunakan. Dapat dipastikan bahwa dalam masyarakat kita,
banyak semut-semut yang berkeliaran.
Di dalam
al-Qur’an dijelaskan tentang sekelompok manusia yang akan tersiksa di akhirat,
karena mereka bekerja keras tanpa mempertimbangkan akibat buruknya:
وُجُوهٌ
يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ(2)عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ(3)تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً(4)تُسْقَى
مِنْ عَيْنٍ ءَانِيَةٍ
“banyak muka
pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang
sangat panas diberi minum (dengan air) dari sumer yang sangat panas”
Menurut riwayat
ayat di atas menunjuk kepada sekelompok manusia yang dalam kehidupan dunia
melakukan kegiatan yang menjadikan badan mereka letih dan capek, tetapi
kegiatan mereka tidak sesuai dengan tuntunan ajaran Islam, yaitu yang
bersangkutan lengah dari kewajiban keagamaannya. Mereka menjadi budak harta,
tergila-gila dengannya sehingga melupakan segala sesuatu, sehingga di akhirat
mereka masuk ke dalam neraka.
Entah berapa
banyak jumlah laba-laba yang ada disekitar kita, yaitu mereka yang tidak lagi
butuh berpikir apa, di mana, dan kapan ia makan, tetapi yang mereka pikirkan
adalah siapa yang mereka jadikan mangsa, siapa lagi yang akan ditipu, dan
bagimana cara mengambil hak orang.
Hadirin Sidang
Jum’at
Demikian pula
di dalam masyarakat kita berapa banyak manusia-manusia lebah, tidakkah lebih
banyak manusia-manusia semut atau manusia laba-laba. Manusia lebah itu adalah
mereka yang tidak boros, tidak suka makan atau mengambil haknya orang, yang
dimakannya adalah saripati bunga, dan ketika mengambil saripati itu tidak
menjadikan bungan itu rusak atau tidak menjadi buah.
Itulah gambaran
orang mukmin yang baik tidak memakan makanan yang haram, mengambil uang negara
untuk kepentingan diri sendiri. Kemudian apa yang keluar dari mulutnya bukan
sesuatu yang menyakiti persaaan tetapi sesuatu yang menyejukkan dan
menyenangkan. Dan bila berada pada suatu tempat atau daerah tidak menjadi
pengacau dan penyebab kericuhan. Tetapi justru kehadirannya sangat diharapkan
oleh orang banyak.
Oleh karenanya,
dalam kesempatan ini marilah kita merenungkan dan mencontoh sifat-sifat yang
dimiliki oleh lebah itu, tidak menconoth sifat-sifat semut dan laba-laba,
sehingga kita dapat mendapatkan nikmatnya kehidupan di dunia ini, lebih-lebih
nikmatnya kehidupan yang abadi di akhirat nanti yaitu surga. Amin.
أعوذ بالله من
الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم
وسارعوا إلى
مغفرة من ربكم وجنة عرضها السموات والأرض أعدت للمتقين
بارك الله لى
ولكم فى القرآن العظيم ونفعنى وإياكم من الآيات والذكر الحكيم وتقبل منى ومنكم إله
هو الغفور الرحيم
Materi Khubah Jumat Terbaru Fungsi dan Peran Utama Seorang Muslim
الحمد لله الذى
جَعَلَنا مِنْ عِبادِهِ الْمُخْلِصِيْْنَ ووَفَّقَنا لِلْعَمَلِ بِما فيهِ صَلاحُ
الاسْلامِ والمسلمين
أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الهادى الى الصراط لمستقيم أما بعد،، فياأيها المسلمون أوصيكم وإياي بتقوى الله عز وجل والتَّمَسُّكِ بهذا الدِّين تَمَسُّكًا قَوِيًّا. فقال الله تعالى في كتابه الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “
أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الهادى الى الصراط لمستقيم أما بعد،، فياأيها المسلمون أوصيكم وإياي بتقوى الله عز وجل والتَّمَسُّكِ بهذا الدِّين تَمَسُّكًا قَوِيًّا. فقال الله تعالى في كتابه الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “
Alhamdulilllah,
segala puji kita panjatkan kehadirat Allah swt bahwa hingga saat ini, Allah
masih memberi kita kesempatan untuk menyempurnakan pengabdian kita kepadaNya,
dengan harapan mudah-mudahan segala kekurangan dalam proses pengabdian itu
diampuni oleh Allah swt. Mudah-mudahan juga momentum hari jumat ini semakin
memberikan kita kesadaran akan peningkatan kualitas iman dan takwa kita
kepadaNya. Amin.
Sesungguhnya
kehidupan ini memang Allah ciptakan untuk menguji siapa diantara hambaNya yang
paling banyak dan paling baik beramal. Beramal merupakan inti dari keberadaan
manusia di dunia ini, tanpa amal maka manusia akan kehilangan fungsi dan peran
utamanya dalam menegakkan khilafah dan imarah. Allah berfirman menegaskan
tujuan keberadaan manusia,
الَّذِي خَلَقَ
الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ
الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Artinya: Yang
menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang
lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun“. (Al-Mulk: 2)
Namun pada
tahap implementasinya, ternyata tidak cukup hanya beramal saja, karena memang
Allah akan menseleksi setiap amal itu dari niatnya dan keikhlasannya. Tanpa
ikhlas, amal seseorang akan sia-sia tidak berguna dan tidak dipandang
sedikitpun oleh Allah swt.
Imam Al-Ghazali
menuturkan, “Setiap manusia binasa kecuali orang yang berilmu. Orang yang
berilmu akan binasa kecuali orang yang beramal (dengan ilmunya). Orang yang
beramal juga binasa kecuali orang yang ikhlas (dalam amalnya). Namun orang yang
ikhlas juga tetap harus waspada dan berhati-hati dalam beramal”.
Dalam hal ini,
hanya orang-orang yang ikhlas beramal yang akan mendapat keutamaan dan
keberkahan yang sangat besar, seperti yang dijamin Allah dalam firmanNya,
“Tetapi hamba -hamba Allah yang dibersihkan (bekerja dengan ikhlas). Mereka itu
memperoleh rezki yang tertentu, yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah
orang-orang yang dimuliakan, di dalam syurga-syurga yang penuh kenikmatan”.
(Ash-Shaaffat: 40-43)
Hadirin Jama’ah
Jum’at dimuliakan oleh Allah
Ayat tentang keutamaan
dan jaminan bagi orang yang bekerja dengan ini ini seharusnya menjadi motifasi
utama kita dalam menjalankan tugas dan pekerjaan kita sehari-hari dalam apapun
dimensi dan bentuknya, baik dalam konteks “hablum minaLlah atau Hablum
minannas”..karena hanya orang yang mukhlis nantinya yang akan meraih
keberuntungan yang besar di hari kiamat, yaitu syurga Allah yang penuh dengan
kenikmatan, meskipun dia harus banyak bersabar terlebih dahulu ketika di dunia.
Ayat ini juga merupakan salah satu diantara jaminan yang disediakan oleh Allah
bagi orang-orang yang mukhlis.
Jaminan lain
yang Allah sediakan bagi mereka yang ikhlas dalam beramal bisa ditemukan dalam
kisah perjalanan Yusuf as ketika beliau berhadapan dengan seorang wanita yang
mengajaknya melakukan kemaksiatan. Bahwa Allah akan senantiasa memelihara
hambaNya yang mukhlis dari perbuatan keji dan maksiat, “Sesungguhnya wanita itu
telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud
(melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari)
Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan
kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang mukhlis“.
(yusuf: 24).
Dalam ayat
lain, orang yang mukhlis juga mendapat jaminan akan terhindar dari godaan dan
bujuk rayu syetan. Syetan sendiri mengakui ketidakberdayaan dan kelemahan
mereka dihadapan orang-orang yang beramal dengan ikhlas, “Iblis berkata: “Ya
Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan
mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan
menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara
mereka.” (Al-Hijr: 39-40).
Dengan redaksi
yang sama, ayat ini berulang dalam surah Shaad, “Iblis menjawab: “Demi
kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu
yang mukhlis di antara mereka“. (Shad: 82-83). Sungguh benteng keikhlasan
merupakan benteng yang paling kokoh yang tak tergoyahkan oleh apapun bentuk
rayuan dan fitnah iblis dan sekutunya.
Hadirin Jama’ah
Jum’at dimuliakan oleh Allah
Dalam tinjauan
ilmu qira’at, para ulama qira’at berbeda dalam membaca kata “Al-Mukhlashin”
yang tersebut pada akhir kedua ayat tersebut. Sebagian qari’ membaca
Al-Mukhlashin dengan ism maf’ul dan sebagian lainnya membaca dengan isim fi’il
Al-Mukhlishin.
Imam Ibnu
Katsir, Abu Amr dan Ibnu Amir, membaca seluruh kalimat ini dalam Al-Qur’an
dengan bacaan “Al-Mukhlishin” yang artinya: Mereka mampu memurnikan agama dan
ibadah mereka dari segala noda yang bertentangan dengan nilai tauhid. Sedangkan
ulama qira’at yang lain membaca Al-Mukhlashin yang artinya: Mereka yang
dipelihara dan mendapat taufik dari Allah untuk memiliki sifat Ikhlas.
Berdasarkan
qira’at ini, ikhlas dan iman adalah mutlak anugerah Allah swt kepada
hamba-hambaNya yang dikehendaki. Namun setiap hamba diperintahkan oleh Allah
untuk senantiasa memperhatikan dan meningkatkan kadar dan tingkt keikhlasannya
dalam beramal. Bahkan Allah menyuruh kita meneladani orang-orang yang mendapat
petunjuk karena tidak pernah mengharapkan balasan dari amalnya kecuali dari
Allah swt, “Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah
orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Yaasin: 21)
Secara prinsip,
Islam memandang keikhlasan sebagai pondasi dan ruh sebuah amal, apapun
bentuknya amal tersebut selama termasuk kategori amal sholih. Baik amal
tersebut dilakukan dalam skala pribadi maupun secara kolektif (bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara). Bahkan keikhlasan dalam ruang lingkup kolektif sosial
ternyata sesuatu yang berat dan memerlukan lebih kesabaran.
Dalam konteks
ini, keikhlasan harus dibangun secara timbal balik antara seluruh individu
dalam masyarakat dan menghindari kecemburuan serta persepsi negatif terhadap
masing-masing anggota. Demikian, semakin luas wilayah kerja seseorang, maka
semakin dibutuhkan keikhlasan.
Apalagi di
tengah semakin beragam hambatan atau ujian keikhlasan yang menghadangnya, yang
pada umumnya adalah seperti yang dinyatakan oleh Syekh Hasan Al-Banna’ dalam
Risalahnya, yaitu: harta, kedudukan, popularitas, gelar, ingin selalu tampil di
depan dan diberi penghargaan dan pujian dan sebagainya.Hadirin Jama’ah Jum’at
dimuliakan oleh Allah
Jika keikhlasan
dituntut dari setiap orang yang beramal, maka menurut Dr. Ali Abdul Halim
Mahmud, keikhlasan bagi seorang da’i merupakan keniscayaan yang harus
senantiasa menyertainya karena ia akan berhadapan dengan berbagai keadaan dan
beragam manusia dalam perjalanan dakwahnya. Jika tidak, maka binasa dan
sia-sialah amalnya. Bahkan sifat yang mendasar bagi seorang da’i yang harus
senantiasa melaziminya adalah ikhlas.
Oleh karena
itu, para ulama hadits menjadikan bab Niat berada di awal kitab hadits susunan
mereka, agar karya tulis mereka selalu diawali dengan keikhlasan dan tidak
luput dari sifat ini. Bisa dibayangkan para ulama yang merupakan teladan dalam
beramal mencontohkan kita agar senantiasa mengukur setiap amal yang kita
lakukan dengan ukuran ikhlas.
Para nabi Allah
dalam kapasitas mereka sebagai da’i senantiasa menjadikan keikhlasan sebagai
jargon dan prinsip dakwah mereka. Sebagai contoh Nabi Muhammad saw sebagai
teladan utama dalam hal ini mengemukakan tentang motifasinya dalam berdakwah,
“Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan
risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil
jalan kepada Tuhan nya“. (Al-Furqan: 57)
Dengan redaksi
yang sama dan dalam surah yang sama secara berdampingan, seluruh nabi Allah
menekankan prinsip keikhlasan dalam dakwah mereka yang ideal, mulai dari nabi
Nuh, Hud, Shalih, Luth dan Syu’aib as. “Dan aku sekali-kali tidak minta upah
kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta
alam“. (Asy-Syu’ara’: 109, 127, 145, 164, 180).
Inilah bangunan
keikhlasan yang pernah ditunjukkan dan dicontohkan dalam dakwah para nabi Allah
swt, sehingga mereka meraih kesuksesan dan diabadikan namanya oleh Allah swt
sebagai cerminan bagi para da’i setelah mereka.
Hadirin Jama’ah
Jum’at dimuliakan oleh Allah
Menurut bahasa,
dalam kata ikhlas terkandung beberapa makna; jernih, bersih, suci dari campuran
dan pencemaran, baik berupa materi maupun non materi. Lawan dari ikhlas adalah
nifak dan riya’. Rasulullah saw bersabda tentang sifat yang mulia ini dalam
sabdanya, “Barangsiapa yang tujuan utamanya meraih pahala akhirat, niscaya
Allah akan menjadikan kekayaannya dalam kalbunya, menghimpunkan baginya semua
potensi yang dimilikinya, dan dunia akan datang sendiri kepadanya seraya
mengejarnya. Sebaliknya, barangsiapa yang tujuan utamanya meraih dunia, niscaya
Allah akan menjadikan kemiskinannya berada di depan matanya, membuyarkan semua
potensi yang dimilikinya, dan dunia tidak akan datang sendiri kepadanya kecuali
menurut apa yang telah ditakdirkan untuknya“. (Tirmidzi).
Dalam apapun
keadaan, keikhlasan akan tetap menjadi modal, bekal sekaligus kemudi amal
sholih, apalagi dakwah sebagai puncak dari amal sholih. Karena semakin berat
dan mulia sebuah tugas tentu akan semakin dibutuhkan keikhlasan. Semakin dewasa
perjalanan dan pengalaman dakwah seseorang, maka semestinya semakin baik
tingkat dan kualitas keikhlasannya.
Keikhlasan juga
merupakan salah satu dari dua pilar dan syarat diterimanya amal sholih, bahkan
ia yang paling utama, seperti yang dinyatakan oleh Abdullah bin Al-Mubarak
ketika menafsirkan ayat: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji
kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” (Al-Mulk: 2).
Tanpanya amal
seseorang akan sia-sia tidak bernilai. Untuk itu, dengan ikhlas, akan mencukupi
amal yang sedikit seperti yang ditegaskan dalam sebuah riwayat Ad-Dailami,
“Ikhlaslah kamu dalam beramal, maka cukuplah amal yang sedikit yang kamu
lakukan”.
أَخْلِصِ الْعَمَلَ يَجْزِيْكَ القلِيْلُ مِنْهُ
Agar ikhlas
dapat terpelihara, tentu ada variabel yang melekat pada setiap amal yang kita
lakukan; diantaranya variabel profesionalisme, kompetensi, itqan dan
kesungguhan. Maka amal yang cenderung apa adanya, serampangan, asal jadi,
“pokoknya” dan amal yang tidak konsisten bisa jadi karena ketidak ikhlasan kita
dalam menjalankan tugas tersebut.
Ini tantangan
terberat bagi kita sesungguhnya. Ikhlas inilah yang akan memperkuat potensi
spritualitas kita. Lantas pertanyaan besar kita, “Apakah ruh dan motifasi yang
menggerakkan roda amal kita selama ini ???…
بارك الله لى
ولكم فى القرآن العظيم ونفعنى واياكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم وتقبل الله
منى ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم
Naskah Materi
Khutbah Jumat Terbaru
Toleransi antar Umat Beragama
Toleransi antar Umat Beragama
إِنَّ الْحَمْدَ
لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ
شُرُورِ أَنْفُسِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَه إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ أَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا
بَيْنَ يَدَىِ السَّاعَةِ ، مَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ رَشَدَ ،
وَمَنْ يَعْصِهِمَا فَقَدْ غَوَى. نَسْأَلُ اللَّهَ رَبَّنَا أَنْ يَجْعَلَنَا
مِمَّنْ يُطِيعُهُ وَيُطِيعُ رَسُولَهُ وَيَتَّبِعُ رِضْوَانَهُ وَيَجْتَنِبُ
سَخَطَهُ فَإِنَّمَا نَحْنُ بِهِ وَلَهُ, }يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا (۷٠) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن
يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } { يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ
مِن رَّحْمَتِهِ وَيَجْعَل لَّكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ }{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوااللَّهَ إِنَّ اللَّهَ
خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Kaum Muslim,
Jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah swt.
Marilah kita
bersyukur kepada Allah Rabbul ‘Alamin, yang Alhamdulillah hingga hari ini,
masih berkenan membuka hati kita untuk tetap dan senantiasa menerima Iman dan
Islam sebagai pedoman hidup kita.
Mengingat sabda
Rasulullah, bahwa terdapat manusia yang paginya beriman, namun sore-nya iman
itu lepas dari dirinya hingga ia berakhir dalam keadaan kafir. Karena itu kaum
muslimin, kesyukuran tersebesar di dalam kehidupan kita ini adalah Allah
memilih kita menjadi orang yang berhak mendapatkan hidayah keimanan tersebut
Shalawat dan
salam tak lupa pula kita doakan kepada junjungan agung Nabi Muhammad saw,
beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh manusia yang tetap senantiasa
istiqomah di jalan islam, yaitu jalan perjuangan yang telah diperjuangkan
Beliau.
Hadirin yang
dimuliakan Allah
Sebagai warga
negara Indonesia, fakta yang tak bisa lepas dari kehidupan sosial kita adalah
kemajemukan. Berbagai macam suku, bahasa dan ras menjadikan singgungan adat dan
budaya tidak terelekkan di sekitar kita.
Tentu dengan
begitu, maka bagi siapa yang bisa menjaga keutuhan persatuan, keanekaragaman
tersebut bisa menjadi sumber kekuatan. Tetapi sebaliknya, bagi siapa yang
tidak, maka persinggungan adat, budaya dan agama akan menjadi sumber konflik di
masyarakat.
Di dalam
al-Qur’an sendiri, persoalan keragaman telah jelas dinyatakan oleh Allah. Di
antara ayat yang sering kita dengar terkait hal ini adalah surat al-Hujurat
ayat 13:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى
وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ
اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Wahai sekalian
manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian dari jenis laki-laki dan
perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling
mengenal satu sama lain. sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di
sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi
maha lagi maha mengenal”
Jika kita mau
mendalami ayat di atas kaum muslimin sekalian, maka akan ditemukan tuntunan
bagi seorang muslim di dalam menghadapi kemajemukan atau perbedaan. Dengan jelas
ayat di atas menggambarkan bagaimana Allah menciptakan manusia yang nantinya
akan bersuku dan berbangsa yang berbeda. Dengan begitu, maka islam mengakui
keberadaan keragaman tersebut, dan menjadikan hal itu sebagai bagian dari
kehendak Allah swt.
Bahkan kaum
muslimin sekalian, di ayat tersebut diperlihatkan bagaimana seharusnya umat
Islam menyikapi perbedaan dan keragaman tersebut. Hal itu dapat diketahui dari
perkataan inna akramakum ‘indallah atqakum’ (sesungguhnya orang yang paling
bertakwa di antara kalian adalah orang yang bertakwa).
Kalimat
tersebut, selain menjadi sebuah pemberitauan juga menjadi sebuah dorongan, di
mana orang Muslim harus menjadi orang yang bertakwa dalam keadaan sosial yang
beraneka ragam.
Dengan kata
lain, ketakwaan adalah solusi terbaik menghadapi kemajemukan dan perbedaan
Mengapa demikian? Sebab orang bertakwa dalam konteks ayat tersebut kaum
muslimin sekalian memiliki dua keistimewaan, seperti yang dijelaskan oleh Abu
Bakar al-Jaza’iry.
Pertama, karena
orang bertakwa adalah orang yang paling mampu dan bersedia untuk mematuhi
aturan Allah, menjadi perpanjangan tangan Allah untuk menyemaikan hukum Allah,
menetapkan keadilan sesuai ukuran Allah
Kedua, karena
orang bertakwa adalah orang yang paling mampu menyikapi keragaman dengan sikap
yang tepat. Sebab di dalam Islam salah satu syarat agar menjadi bertaqwa adalah
bisa menghargai manusia dari berbagai macam perbedaan. Ketaqwaan seseorang
melahirkan toleransi dan kepedulian di dalam dirinya.
Kaum Muslimin
Rahimakumullah.
Di dalam al-Qur’an
terdapat beberapa ayat yang menjadi wujud nyata dari sikap toleransi yang harus
disemaikan oleh orang bertakwa. Di antaranya: surat al-Hujurat ayat 10
dinyatakan umat muslim harus mampu mengatasi konflik dan mendamaikan satu sama
lainnya dengan asas persaudaraan.
Pada ayat ke
sebelas, Allah melarang orang mukmin mencela dan menjuluki dengan julukan yang
tidak disukai oleh satu kelompok, lalu pada ayat 12, Allah juga melarang umat
muslim berburuk sangka, karena berburuk sangka adalah pangkal kecelakaan yang
besar, di ayat yang sama, Allah juga melarang umat muslim mencari-cari
kesalahan dan menggunjing.
Jika konsep
toleransi yang terkandung dari ayat-ayat di atas dipatuhi oleh umat Islam,
terkhusus kita di Indonesia ini, maka bukan menjadi hal yang mustahil jika
Indonesia bisa muncul sebagai negara yang tingkat keadilan, dan kedamaiannya
tertinggi dibanding negara-negara lain.
Di samping itu,
memang sudah menjadi kewajiban muslim untuk selalu menebar kedamaian di
mana-mana, sehingga jika terdapat sekelompok orang melakukan tindak teror
mengatas namakan Islam, berarti itu adalah kesalahan yang besar.
Kaum Muslimin
yang dirahmati Allah
Namun kaum
muslimin sekalian, selain toleransi dan kepedulian terhadap sesama yang harus
kita junjung tinggi, tidak kalah pentingnya kita untuk menjaga aqidah kita, dan
aqidah saudara-saudara kita sesama umat muslim.
Aqidah ini
adalah identitas kita sebagai orang Islam dan bertoleransi bukan berarti
menghilangkan aqidah kita sebagai muslim, jika terdapat slogan bertoleransi
dengan menyatakan semua agama benar itu adalah toleransi yang tidak dibenarkan
di dalam Islam.
Dalam hal
aqidah Rasulullah saw sangat keras dan tegas. Bahkan dalam beberapa riwayat
Rasulullah selalu memerintahkan agar umat muslim memiliki ciri khas agar berbeda
dengan orang non muslim, nabi senantiasa menyerukan khaliful yahudi.
Berbedalah kamu
dengan kaum yahudi, seperti anjuran memanjangkan jenggot dan merapikan kumis,
terdapat perintah untuk berpenampilan berbeda dibanding yahudi yang ketika itu
sangat gemar memanjangkan kumis.
Dalam persoalan
agama juga, Rasul tidak segan-segan menyatakan, man tasyabbaha bi qoumin fahuwa
minhum. Barang siapa yang mengikuti atau memirip-miripkan dirinya dengan suatu
kaum, maka dia termasuk kaum tersebut.
Di dalam tafsir
at-Thabari pernah diceritkan bahwa suatu ketika Nabi diminta oleh para pemuka
quraisy untuk mengusap hajar aswad sebagai wujud penghormatan atas tuhan mereka
setiap hendak melakukan ibadah di dekat ka’bah.
Dengan balasan
dakwah Nabi tidak akan diganggu bahkan dikatakan mereka akan mengikutinya juga.
Tentu tawaran ini sangat menguntungkan untuk dakwah Islam ke depannya, sehingga
hampir-hampir Rasulullah mau melakukannya.
Tetapi Allah
langsung menegur nabi dengan menurunkan firman surat al-Isra ayat tiga tuju dan
tiga lima. Dari teguran tersebut kita dapat mengetahui hikmah di balik
pelarangan tersebut.
Di antaranya
adalah, meskipun persoalan tersebut secara kasat mata sepele, di mana Nabi
Muhammad Cuma mengusap patung setiap beribadah di sekitar ka’bah, tetapi
akibatnya sangat besar dan bersinggungan dengan Aqidah.
Nabi Muhammad
sebagai panutan masyarakat Islam ketika itu, tentu akan dilihat banyak
pengikutnya. Dengan melihat perbuatan tersebut, jika nabi mau melakukannya
ketika itu, maka secara otomatis para sahabat akan berpikiran dan beranggapan
bahwa Rasul telah diperbolehkan Allah untuk memperlonggar ibadah dan mengakui
tuhan-tuhan berhala tersebut sebagai imbas dari beliau mengusap patung di
sekitar ka’bah setiap kali ibadah.
Peristiwa ini
tentu menjadi peringatan penting bagi kita muslim indonesia. Dengan banyak
bersinggungan dengan adat dan ritual ibadah agama lain, kita harus lebih
menjaga identitas agama kita.
Harus percaya
diri terhadap keislaman kita, tidak malah justru melakukan hal-hal yang bisa mengaburkan
aqidah dan pandangan saudara-saudara kita sesama muslim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar